Kota Blitar - Di tengah kemudahan menikmati musik melalui platform digital, masih ada sekelompok orang yang setia merawat pengalaman mendengarkan musik melalui rilisan fisik. Mulai dari piringan hitam, kaset pita hingga kepingan CD, semuanya menyimpan cerita, kenangan, sekaligus nilai seni yang tidak tergantikan. Semangat itulah yang kembali dihadirkan dalam Record Store Day Blitar setelah satu dekade vakum.
Kembalinya Record Store Day di Kota Blitar menjadi kabar menggembirakan sekaligus angin segar bagi para penikmat rilisan fisik musik. Pameran yang identik dengan piringan hitam, kaset pita, kepingan CD hingga merchandise band ini kembali menghadirkan semangat baru untuk menjaga eksistensi budaya koleksi musik di era yang serba digital seperti saat ini.
Bangkitnya Record Store Day di Blitar setelah satu dekade vakum diinisiasi oleh sejumlah pemuda yang memiliki visi dan kecintaan yang sama terhadap musik maupun rilisan fisiknya.
Salah satu penggerak Record Store Day 2026 Andrean Yahya, mengatakan bangkitnya pameran ini menjadi ruang temu bagi para pecinta rilisan fisik musik dari berbagai genre. Selain menjadi ajang temu kangen sesama pelaku seni musik, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi para pelaku musik untuk memamerkan sekaligus menjual berbagai karya yang berkaitan dengan musik, mulai dari piringan hitam, kaset pita, kepingan CD hingga merchandise band.
Setelah vakum selama sepuluh tahun, Record Store Day tahun ini dikemas lebih beragam dibanding saat pertama kali digelar pada tahun 2014. Berbagai kegiatan dihadirkan seperti record showcase, art exhibition, talk session, pop up market, merchandise, music session, live screen printing hingga zine atau media publikasi independen.
Dalam penyelenggaraan tahun 2026, pengunjung dapat menikmati ratusan rilisan fisik berupa piringan hitam, kaset pita maupun kepingan CD dari berbagai genre musik, baik karya musisi lokal, nasional hingga mancanegara. Selain melihat koleksi yang dipamerkan, pengunjung juga dapat membeli sejumlah rilisan fisik yang tersedia selama kegiatan berlangsung.
"Ingin meneruskan karena teman - teman berniat dan ingin menghadirkan kembali acara atau kegiatan pameran rilisan fisik musik yang dikemas dalam Record Store Day agar konsisten setiap tahunnya dan menjadi wadah," kata Andrean.
Semangat yang sama juga disampaikan oleh Penggerak Record Store Day pertama di Blitar, Taufan Prima Ardiansyah. Menurutnya, kegiatan ini lahir dari keresahan para pecinta musik karena minimnya toko yang menjual karya musik dalam bentuk fisik di Blitar Raya. Ia mengaku bangga karena fondasi yang dibangun bersama rekan-rekannya kini diteruskan oleh generasi baru yang memiliki visi serupa untuk menjaga budaya koleksi rilisan fisik musik.
"Record Store Day diawali oleh sekelompok musik independen di Amerika Serikat pada tahun 2007. Record Store Day di Blitar, di adakan karena saat itu minimnya toko - toko kaset dan sedikit sulit untuk mendapatkannya," ujar Taufan.
Melalui Record Store Day ini, para penggerak berharap semakin banyak musisi dan grup musik di Blitar Raya yang produktif menciptakan serta merilis karya-karya baru. Dengan demikian, ekosistem musik lokal dapat terus tumbuh dan karya yang dihasilkan bisa dinikmati masyarakat dari berbagai kalangan usia. *Fan/Kir