Kota Blitar - Langkah Rashida Aura terus melesat membawa harum nama Kota Blitar dan Jawa Timur di panggung nasional. Perempuan 20 tahun asal Kelurahan Tanggung itu baru saja dinobatkan sebagai Puteri Remaja Jawa Timur Pariwisata 2026 dan akan mewakili Jawa Timur pada ajang Puteri Remaja Indonesia yang digelar Oktober mendatang.
Prestasi tersebut melengkapi deretan pencapaiannya sebagai Duta Wisata Diajeng Kota Blitar 2024, alumni Kangmas Diajeng Cilik Kota Blitar 2017 hingga Winner Puteri Tari Cilik Indonesia 2023. Namun di balik sederet mahkota dan gelar yang diraihnya, tersimpan perjalanan panjang seorang gadis pemalu yang tumbuh menjadi sosok muda inspiratif dengan kepedulian sosial yang kuat.
Rashida, yang akrab disapa Rara, mengaku kecintaannya terhadap dunia seni telah tumbuh sejak kecil. Selama menempuh pendidikan di SMAN 3 Kota Blitar, ia aktif di dunia modelling dan tari melalui berbagai ekstrakurikuler sekolah. Bakat menarinya bahkan mengantarkan dirinya mewakili Kota Blitar dalam berbagai kompetisi bergengsi seperti DBL Dance Competition hingga Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Ketertarikan Rara di bidang seni ternyata menurun dari sang mama yang dahulu aktif di dunia teater dan kesenian. Dari keluarga itulah Rara tumbuh dengan keberanian untuk terus mengejar mimpi, meski awalnya ia mengaku merupakan anak yang pemalu.
Perjalanan menuju dunia duta dan pageant dimulainya sejak duduk di bangku kelas 6 SD. Kala itu ia bahkan sempat “dipaksa” sang mama untuk tampil dan mengikuti berbagai kompetisi. Namun dari situlah perlahan rasa percaya dirinya tumbuh.
"Dulu saya pemalu sekali, tapi mama selalu bilang saya harus berani mencoba. Sejak kecil saya juga suka melihat Puteri Indonesia di televisi dan punya mimpi suatu hari bisa jadi perempuan yang menginspirasi banyak orang,” Ungkapnya.
Konsistensinya membuahkan hasil. Di tengah padatnya persiapan kompetisi Puteri Remaja Jawa Timur, Rara ternyata juga tengah fokus mempersiapkan diri menghadapi UTBK. Kerja kerasnya pun terbayar manis setelah berhasil diterima di jurusan Psikologi Universitas Brawijaya, jurusan yang memang menjadi kampus dan program studi impiannya.
Namun yang paling mencuri perhatian bukan hanya prestasi akademik maupun gelar pageant yang diraih, melainkan proyek sosial yang kini konsisten dijalankannya melalui program bertajuk Lentera Aura. Lewat proyek tersebut, Rara fokus menghadirkan multisensory book atau buku multisensori bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Program itu dijalankan melalui penjualan kain batik hasil karya rekan-rekan disabilitas, yang kemudian hasilnya digunakan untuk membantu penyediaan media belajar inklusif. Inspirasi program itu datang dari sang mama yang selama ini menjadi guru bagi anak berkebutuhan khusus. Dari pengalaman tersebut, Rara melihat langsung bahwa anak-anak disabilitas memiliki potensi besar jika diberikan ruang dan metode pembelajaran yang tepat.
Bagi Rara, buku multisensori bukan sekadar alat belajar, tetapi simbol bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Ia berharap gerakan kecil yang dimulainya bisa menjadi langkah nyata membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kepeduliannya itu pula yang akhirnya menguatkan tekadnya memilih jurusan psikologi. Selain bercita-cita menjadi HRD profesional, Rara juga memiliki mimpi besar untuk mengembangkan sekolah dan media pembelajaran pemberdayaan bagi rekan-rekan disabilitas di masa depan.
“Saya ingin membuat tempat belajar yang benar-benar memahami kebutuhan mereka. Karena saya percaya setiap orang punya potensi luar biasa ketika diberi kesempatan,” katanya.
Bagi Rara, buku multisensori bukan sekadar alat belajar, tetapi simbol bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Ia berharap gerakan kecil yang dimulainya bisa menjadi langkah nyata membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kepeduliannya itu pula yang akhirnya menguatkan tekadnya memilih jurusan psikologi. Selain bercita-cita menjadi HRD profesional, Rara juga memiliki mimpi besar untuk mengembangkan sekolah dan media pembelajaran pemberdayaan bagi rekan-rekan disabilitas di masa depan.
“Saya ingin membuat tempat belajar yang benar-benar memahami kebutuhan mereka. Karena saya percaya setiap orang punya potensi luar biasa ketika diberi kesempatan,” katanya. *Ipa/Kir