Kota Blitar - Pemerintah terus memperkuat layanan kesehatan dasar dalam upaya pengendalian penyakit kusta. Di UPT Puskesmas Kepanjenkidul misalnya, penanganan dan pengawasan kasus dilakukan secara ketat meski jumlah penderita kusta di Kota Blitar masih tergolong rendah.
Pemegang Program P2P Puskesmas Kepanjenkidul, dr. Ayu Marina Hapsari menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua kasus kusta tipe multibasiler yang terdeteksi di wilayah kerjanya. Menurutnya, kusta atau lepra merupakan penyakit infeksi menular yang menyebar melalui droplet dan disebabkan oleh Mycobacterium leprae, bakteri yang tergolong satu kelompok dengan penyebab TBC.
“Kusta menyerang saraf tepi dan jaringan kulit. Gejalanya bisa berupa bercak kemerahan yang tidak berasa, kulit menebal, rambut rontok di area lesi, dan kulit tidak mengeluarkan keringat. Angka kejadiannya di Kota Blitar memang masih rendah, tetapi masyarakat harus tahu penyakit ini masih ada,” ungkap dr. Ayu.
Pihaknya mengungkapkan, salah satu kasus yang ditemukan memiliki riwayat tinggal dan bekerja di luar pulau Jawa. Pasien tersebut sempat berinteraksi dengan rekan kerja yang menunjukkan gejala mirip kusta namun tidak menjalani pengobatan. Kasus baru teridentifikasi sekitar lima tahun kemudian.
Sementara itu, PJ Klaster 4 Puskesmas Kepanjenkidul, Eltrik Setiyawan menegaskan bahwa upaya pengendalian dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan promotif dan preventif untuk memutus rantai penularan. Seluruh pasien yang terdeteksi saat ini telah menjalani terapi MDT (Multi Drug Therapy) dan berada dalam pengawasan rutin petugas kesehatan. Selain itu, pemantauan kontak erat pun terus diperkuat.
“Kami aktif melakukan edukasi bahwa kusta masih ada dan bisa menular. Screening juga dilakukan pada kelompok rentan, termasuk di sekolah. Jika ditemukan gejala mencurigakan, kami lakukan apusan jaringan kulit dan pemeriksaan mikroskopik,” jelas Eltrik.
Pemerintah daerah memastikan bahwa layanan deteksi dini, pengobatan, dan pemantauan kontak erat tetap berjalan intensif melalui puskesmas. Langkah ini menjadi bentuk komitmen untuk menjaga masyarakat tetap waspada sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit kusta di Kota Blitar. (Ipa)