Perkuat Eksistensi Robusta Lokal, Toko Kopi Jati Angkat Potensi Kopi Blitar

  • 04 April 2026

Potensi Blitar - Potensi kopi lokal di Kota Blitar terus menunjukkan geliat positif. Tak hanya dikenal dengan sejarah dan budayanya, kota ini kini mulai berkembang sebagai destinasi wisata kuliner berbasis kopi lokal. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Toko Kopi Jati, kedai kopi yang mengusung konsep dari hobi menjadi bisnis berbasis pemberdayaan petani.

Pemilik kedai, Badru Sofa, mengungkapkan usaha ini berawal dari kecintaannya terhadap kopi sejak masa kuliah di Malang. Ketertarikan tersebut membawanya belajar langsung dari seorang rekan barista hingga terlibat dalam pendampingan petani kopi, mulai dari pembibitan hingga perawatan.

“Awalnya hobi dari waktu kuliah, memang sudah suka kopi. Dari situ akhirnya jadi usaha. Saya jalani dengan happy karena memang passion, awalnya iseng dan tidak terpikirkan bisa jadi sebesar ini,” ungkapnya.

Sepulang ke Blitar, Badru bersama rekannya Prayoga Purnomo Putra mulai merintis usaha. Mereka sempat membuka kedai pertama di Jalan Lindi dengan nama Lindi Coffee Eatery, sebelum akhirnya berpindah ke kawasan Jalan Jati, Kecamatan Sukorejo, dan bertransformasi menjadi Toko Kopi Jati seperti yang dikenal saat ini.

Keunikan utama kedai ini terletak pada fokusnya terhadap kopi robusta lokal Blitar. Biji kopi diperoleh langsung dari petani setempat sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal sekaligus upaya memperkenalkan kualitas kopi robusta daerah ke masyarakat luas.

“Khusus untuk kopi robusta, kami ambil dari petani lokal Blitar. Kami ingin membantu pemasaran hasil panen mereka sekaligus mengenalkan kopi Blitar,” tambah Badru.

Dalam operasionalnya, Toko Kopi Jati mampu menghabiskan sekitar 150 hingga 200 kilogram green bean setiap bulan hanya untuk cabang Blitar. Produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari kopi kemasan hingga sajian siap minum. Harga robusta dibanderol mulai Rp40 ribu hingga Rp155 ribu per kilogram, sementara arabika mulai Rp170 ribu per kilogram.

Secara bisnis, usaha ini menunjukkan perkembangan positif dengan omzet bulanan berkisar Rp12 juta hingga Rp15 juta. Namun bagi Badru, keuntungan bukan satu-satunya tujuan.

“Bisnis tetap jalan, tapi edukasi soal kopi ke masyarakat juga penting. Kami juga ingin membantu meningkatkan produksi petani kopi di Blitar,” ujarnya.

Melihat antusiasme masyarakat yang terus meningkat, Toko Kopi Jati kini telah membuka cabang di Jalan Kalibrantas No.10, Tanjungsari, Kota Blitar, serta berekspansi ke luar daerah dengan membuka gerai kedua di Tulungagung, tepatnya di Jalan Pahlawan No.111.

Ke depan, Badru berharap konsumsi kopi lokal di Blitar semakin meningkat, sehingga hasil panen petani dapat terserap secara maksimal tanpa harus bergantung pada pasar luar daerah. *Ipg/ Kir

Press ESC to close