Perdana Digelar di Kota Blitar, Pameran Kaligrafi “Ziarah Jiwa” Ajak Pengunjung Menyelami Makna Spiritual Ramadan

  • 14 March 2026

Potensi Blitar - Suasana Ramadan di Kota Blitar tahun ini terasa berbeda. Di tengah kegiatan ibadah dan refleksi diri yang meningkat, para pegiat seni menghadirkan ruang kontemplasi melalui pameran kaligrafi bertajuk “Ziarah Jiwa” yang digelar di Art Center kawasan Kelurahan Sananwetan.

Pameran yang berlangsung selama sebulan, mulai 25 Februari hingga 25 Maret 2026 ini menampilkan 32 karya kaligrafi dari 13 seniman. Mayoritas merupakan seniman asal Blitar. Bagi para seniman, pameran ini bukan sekadar ajang menampilkan karya, tetapi juga ruang untuk mengajak masyarakat merasakan perjalanan spiritual melalui seni rupa. Tema “Ziarah Jiwa” dipilih untuk menggambarkan proses perenungan batin yang selaras dengan suasana Ramadan.

Panitia Pelaksana, Danang Sujatniko, menjelaskan gagasan pameran ini berawal dari diskusi santai antar pegiat seni yang ingin menghadirkan kegiatan kreatif sekaligus bermakna selama bulan Ramadan.

“Awalnya hanya diskusi kecil antar teman-teman seniman. Kami berpikir Ramadan bisa menjadi momentum untuk menghadirkan kegiatan seni yang memberi ruang refleksi. Dari situ akhirnya muncul ide membuat pameran kaligrafi dengan tema Ziarah Jiwa,” ungkapnya.

Pameran ini juga menjadi momen bersejarah bagi dunia seni di Blitar, karena untuk pertama kalinya karya kaligrafi mendapatkan ruang khusus dalam sebuah pameran. Selama ini kaligrafi biasanya hanya menjadi bagian dari pameran seni rupa secara umum.

Salah satu seniman yang berpartisipasi adalah Rian Yogo Wibowo, perupa kaligrafi yang karyanya telah tampil di berbagai festival internasional, termasuk di Aljazair. Dalam pameran ini, Rian menghadirkan pendekatan berbeda dengan memadukan kaligrafi dan seni batik.

Alih-alih melukis di atas kanvas, Ia menciptakan kaligrafinya menggunakan canting malam di atas kain batik, menggabungkan dua tradisi seni yang kuat dalam budaya Nusantara.

“Kaligrafi bukan sekadar seni menulis indah, tetapi sarana untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Dalam pameran ini selain menghadirkan karya yang pernah dipamerkan di festival internasional di Aljazair, saya juga menampilkan goresan kaligrafi yang saya canting di selembar kain batik,” terangnya.

Eksplorasi lain juga ditampilkan oleh seniman Nafang Pramadi melalui teknik kaligrafi cermin. Melalui pendekatan tersebut, pengunjung diajak merenung bahwa apa yang tampak di luar diri manusia sejatinya merupakan refleksi dari apa yang ada di dalam batin.

“Teknik kaligrafi cermin ini mengajak kita merenung bahwa apa yang tampak di luar diri manusia sejatinya adalah refleksi dari batinnya,” ujarnya.

Menariknya, antusiasme pengunjung terhadap pameran ini cukup tinggi meskipun digelar di ruang galeri. Jika biasanya galeri ramai hanya saat pembukaan, pameran “Ziarah Jiwa” justru banyak dikunjungi pada hari biasa, terutama pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.

Salah satu pengunjung, Alfira Khoirunisa, mengaku sengaja datang sembari menghabiskan waktu ngabuburit bersama rekan kampusnya. Ia mengaku terkesan dengan ragam karya yang dipamerkan.

“Menurut saya karya-karyanya sangat menarik. Setiap lukisan punya karakter yang berbeda. Saya paling suka karya berjudul The Emptyness, karena terlihat sederhana, tetapi ketika diamati ternyata terdapat rangkaian kaligrafi yang menggambarkan keagungan Tuhan,” jelasnya.

Selain menjadi ruang apresiasi seni, pameran ini juga membuka peluang ekonomi bagi para seniman. Sejumlah karya bahkan telah dipasarkan dengan harga yang disepakati bersama dan mendapat respons positif dari pengunjung. Ke depan, panitia berharap pameran “Ziarah Jiwa” dapat menjadi agenda rutin setiap Ramadan sekaligus menjadi wadah berkelanjutan bagi para pegiat kaligrafi di Blitar. *Ipg/ Kir

Press ESC to close