Potensi Blitar - UPT Perpustakaan Bung Karno kembali menghadirkan ruang alternatif bagi warga Kota Blitar untuk melepas penat melalui gelaran “Nonton Film Dulu Lalu Berbincang” edisi kelima. Program kolaboratif bersama komunitas Tantjapan Dadakan dan Kunamsinam Film ini, digelar rutin setiap Jumat sore di minggu kedua setiap bulan. Pada edisi November 2025, agenda ini berlangsung meriah di Auditorium Sukarno lantai 3.
Acara yang dirancang sebagai ruang apresiasi film sekaligus tempat berbincang santai ini kembali mencatat respons luar biasa. Lebih dari 100 peserta hadir, melampaui target awal panitia. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, sineas muda, komunitas kreatif, hingga masyarakat umum yang sekadar ingin berkumpul, menikmati film, dan mengobrol santai setelah sepekan penuh kesibukan.
Pada edisi kelima ini, panitia memutar enam film dari beragam genre dokumenter, drama, hingga actiondi antaranya The Last Guardian of Sago, Take Back karya sutradara Mada Arya, Move On produksi Sequence UNS, Liang karya Marcelino, Tinah but Cigarette karya Gugun Arief, serta Hagia oleh Adivictory. Menariknya, sebagian film yang ditayangkan merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas film dari berbagai daerah dan telah meraih nominasi hingga penghargaan di festival film nasional maupun internasional.
Setelah pemutaran film, peserta diajak mengikuti sesi diskusi hangat yang menjadi ciri khas program Tantjapan Dadakan. Suasana cair membuat peserta bebas berbagi pendapat, mengkritik, atau sekadar mengungkapkan kesan terhadap film yang ditonton.
“Kami tidak menyangka pesertanya bisa sebanyak ini. Target awal hanya 50 orang, tetapi ternyata yang hadir dua kali lipat. Ini menandakan ruang apresiasi film seperti ini sangat dibutuhkan di Blitar,” ujar Betet, perwakilan panitia Nonton Film lalu Berbincang.
Bagi Perpustakaan Bung Karno, kegiatan ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar membaca buku, namun memahami gagasan melalui media visual. Program ini terus dikembangkan sebagai ruang publik alternatif yang nyaman, inklusif, dan edukatif.
Antusiasme juga datang dari warga yang hadir, salah satunya Lathifa, warga Kelurahan Blitar. Baginya kegitan ini sangat inspiratif dan cocok dijadikan healing selepas kerja.
“Senang ya ada event seperti ini. Saya pulang kerja jenuh, lalu lihat flyer acara ini. Ternyata menarik dan bisa jadi kegiatan healing selepas kerja. Filmnya bagus, saya paling suka Take Back yang mengangkat isu lingkungan dan mendapat perhatian di konferensi internasional. Semoga terus diadakan tiap bulan dan makin ramai,” ungkapnya.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ajakan untuk hadir di edisi berikutnya. Dengan jumlah peserta yang terus meningkat, “Nonton Film Dulu Lalu Berbincang” diproyeksikan menjadi agenda bulanan yang paling dinanti para pecinta film dan pencari ruang healing di Kota Blitar. (Ipa)