Potensi Blitar - Blitar dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai kota berbasis narasi budaya dan visual sinematik. Hal itu disampaikan penulis skenario nasional Endik Koeswoyo yang menilai film menjadi medium paling efektif untuk memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.
Menurut Endik, sebuah kota tidak cukup hanya dikenal melalui landmark, tetapi juga harus mampu diterjemahkan lewat cerita, karakter masyarakat, hingga budaya lokal yang hidup di dalamnya. Pengalaman tersebut, ia dapatkan selama berkarya bersama sejumlah rumah produksi nasional seperti Starvision Plus, Rapi Films, hingga SinemArt.
Ia dikenal melalui sejumlah karya populer seperti 7 Manusia Harimau, Negeri Para Ketua, hingga Pingin Hijrah. Dari pengalamannya tersebut, Endik melihat Blitar memiliki kekuatan budaya dan lanskap yang sangat layak diangkat ke layar lebar.
“Kalau ngomongin Blitar, semua kita punya. Jogja punya keraton, kita punya Istana Gebang. Mereka punya Merapi dan Semeru, kita punya Gunung Kelud dengan legenda Lembu Suro dan Putri Kediri. Pantai ada, arsitektur kuno juga banyak. Bahkan menurut saya ada sisi Blitar yang justru lebih menarik karena masih alami dan hidup berdampingan dengan alam,” ujarnya.
Endik memilih kembali menjalani kehidupan slow living di Blitar setelah lebih dari satu dekade berkarier di Yogyakarta dan Jakarta. Baginya, suasana masyarakat yang tenang namun kritis menjadi daya tarik tersendiri.
Ia menilai budaya diskusi di warung kopi hingga pasar tradisional menjadi ciri khas masyarakat Blitar yang unik dan memiliki nilai sinematik kuat.
Selain itu, tradisi lokal seperti haul, grebeg, hingga suasana Ramadan di kampung-kampung juga dinilai memiliki daya tarik sinematik apabila dikemas melalui cerita film. Ia bahkan mengaitkan hal itu dengan jejak sejarah panjang Blitar sebagai daerah yang melahirkan banyak tokoh besar bangsa.
“Banyak peneliti dari Eropa dan Amerika datang saat Ramadan untuk melihat tradisi lokal selama bulan puasa. Justru lokalitas seperti ini yang menjadi nilai plus. Bagaimana budaya itu dieksplor menjadi narasi film sekaligus media promosi daerah,” tambahnya.
Ia juga menyoroti dialek khas masyarakat Blitar yang menurutnya memiliki karakter artistik tersendiri. Menurut Endik, keberhasilan sejumlah film daerah lahir karena berani mengangkat karakter lokal secara autentik.
“Kita lihat Jogja sukses lewat film Tilik. Orang langsung ingat karakter masyarakatnya, cara ngomongnya, suasananya. Blitar juga bisa punya identitas seperti itu kalau berani mengangkat karakter lokalnya sendiri,” pungkasnya.
Melalui kekuatan cerita, budaya, dan karakter masyarakatnya, Blitar dinilai memiliki peluang besar menjadi kota yang hidup di layar film. Bukan hanya sebagai latar cerita, tetapi sebagai identitas daerah yang mampu dikenang dan dikenal lebih luas lewat narasi khas yang tidak dimiliki kota lain. *Ipg/ Kir