Potensi Blitar - Potensi kopi Kota Blitar kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Kopi Robusta Blitar sukses meraih Juara 2 kategori Robusta dalam ajang Indonesia Green Coffee Competition 2026 melalui rangkaian WE Kopi Kolaborasi Season 6.
Di balik capaian tersebut, ada sosok Ahrian Festyananda - Ketua Asosiasi Kopi Blitar Raya sekaligus pemilik Selasar Coffee, yang konsisten membangun kualitas kopi dari hulu hingga hilir.
Robusta yang dikenalkan Ahrian bukan produk biasa. Biji kopi tersebut diproses menggunakan metode honey anaerobic, teknik pascapanen yang menuntut ketelitian, konsistensi, serta pemahaman mendalam terhadap karakter biji kopi. Metode ini dikenal mampu menghasilkan profil rasa yang lebih kompleks dan bersih.
Kompetisi berskala nasional yang diikutinya memiliki standar penilaian internasional dengan mengacu pada sistem Specialty Coffee Association (SCA). Tahapannya pun ketat, dimulai dari seleksi administrasi, proses roasting terstandar oleh roaster terpilih untuk menjaga konsistensi profil rasa, hingga cupping secara blind sample oleh panel juri nasional dan internasional dari berbagai negara Asia.
Dari ratusan peserta yang mendaftar, hanya 73 kopi yang lolos ke tahap penjurian akhir. Dan, robusta Blitar milik Ahrian dinilai memiliki karakter rasa yang clean, seimbang, dan konsisten. Ciri penting dalam kategori specialty robusta yang kini semakin diminati pasar. Bagi Ahrian, pencapaian ini bukan sekadar prestasi pribadi.
“Ini bukan sekadar lomba, tapi pembuktian bahwa Robusta Blitar punya kualitas yang diakui secara nasional. Harapannya, ini bisa mengangkat nilai tambah kopi petani di Blitar,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kualitas green bean tidak lahir secara instan. Proses panjang dimulai dari kebun, panen selektif, hingga penanganan pascapanen yang tepat menjadi kunci utama. Karena itu, selama ini ia fokus pada pembinaan petani dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor kopi.
Sebagai Master Instruktur di LPK Senandung Laras Kopi, Ahrian juga aktif membangun ekosistem pembelajaran kopi di Blitar. Menurutnya, penguatan kualitas harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi kopi di tingkat petani maupun pelaku usaha.
“Kami fokus pada pendampingan petani, terutama di proses pascapanen. Karena kualitas green bean sangat ditentukan di tahap itu,” tambahnya.
Keberhasilan ini sekaligus mempertegas posisi Blitar sebagai salah satu daerah penghasil Robusta berkualitas di Jawa Timur. Selama ini robusta kerap dipandang sebelah mata dibanding arabika. Namun melalui inovasi proses dan konsistensi mutu, Robusta Blitar mulai membuktikan daya saingnya.
Tak berhenti di tingkat nasional, kopi robusta pemenang tersebut kini tengah dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi internasional dan bersaing dengan kopi dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Aroma Robusta Blitar kini tak hanya mengharumkan nama daerah, tetapi juga membuka jalan menuju panggung kopi dunia, membawa harapan baru bagi petani dan pelaku usaha kopi lokal. *Ipg/ Kir